Sumber Kekuatan Diri

Sumber Kekuatan Diri

Entah berapa orang yang bertanya pada saya tentang “rahasia” agar selalu tampil semangat setiap saat.

Branding “semangat” memang begitu melekat pada pribadi saya sejak lama. Baik mereka yang sudah pernah bertemu secara offline maupun membaca tulisan saya secara online bisa merasakannya.

Mereka beranggapan kalau saya memiliki energi besar sehingga semangatnya tak habis-habis.

Bahkan tak jarang orang-orang yang tadinya lesu, lemes, dan tak bergairah bisa tertular semangat saya setelah saya beri suntikan beberapa bait kata yang mengggah jiwa mereka.

Apa rahasianya?

Jujur, saya merasa tidak ada yang istimewa dari apa yang mereka lihat selama ini.

Sebenarnya apa yang mereka lihat tidak sefantastis dari realtia yang sedang saya hadapi.

Karena pada dasarnya kita semua sama.

Sama-sama memiliki eposide-episode kepahitan dalam hidup.

Sama-sama pernah menangis karena menghadapi sebuah ujian yang Allah berikan.

Sama-sama pernah merasa tersakiti dan dikhianati.

Sama-sama pernah merasa terdzolimi.

Sangat tidak mungkin kehidupan seseorang akan selalu merasakan kesenangan dalam hidupnya.

Sangat tidak mungkin kehidupan seseorang akan selalu semangat selamanya.

Pasti ada masa dimana orang itu down.

Pasti ada masa dimana orang itu menangis.

Pasti ada masa dimana orang itu sedih.

Intinya, semua sama-sama pernah merasakan dinamika hidup yang benar-benar berliku dan tidak pasti.

Karena memang seperti itulah Allah merancang mekanisme kehidupan kita. Hidup ini adalah ujian untuk membuktikan siapakah yang lebih baik amalnya di hadapan Allah.. (QS. 67: 2)

Ketika kita dunia, maka bersiaplah atas semua ujianya

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29: 2)

Lantas, apa yang membedakan antara orang yang sangat mudah bangkit dengan orang yang justru merasa sangat terpuruk ketika menghadapi ujian dari Allah?

Yang membedakan adalah PEMAKNAAN orang tersebut terhadap masalah yang sedang dia hadapi.

Jika ujian dari Allah dimaknai sebagai “penyiksaan”, maka dia akan merasakan kesedihan dan penyiksaan.

Jika ujian dari Allah dimaknai sebagai penggugur dosa, tentu dia akan semakin tenang dan berbahagia.

Jika ujian dari Allah dimaknai sebagai anugerah, tentu akan semakin membangkitkan gairah untuk menjadi lebih baik.

Nah, saat ini makna apa yang kita lekatkan pada ujian dari Allah?

Sama-sama jualan sepi.

Yang satu merasa Allah tidak adil padanya karena dia sudah berusaha menjual tapi tidak mendapatkn hasil apa-apa.

Sedangkan yang satunya, merasa bahwa dia ditergur oleh Allah agar dia instropeksi diri kenapa jualannya tidak laku. Mungkin kurang ilmu. Mungkin kurang yakin. Mungkin kurang ngotot. Mungkin kebanyakan dosa.

Sama-sama belum mendapat jodoh.

Yang satu merasa dirinya tidak laku. Merasa bahwa dia tidak pantas berjodoh dengan siapa pun sehingga tidak lekas mendapat jodoh.

Lebih parahnya lagi, dia memakaninya sebagai bentuk ketidakadilan Allah pada hidupnya. Yang lain begitu mudah mendapat jodoh, sedangkan dia begitu sulit mendapat jodoh. Nyesek!

Sedangkan yang satunya merasa bahwa ada waktu yang lebih baik yang sedang Allah siapkan untuk menanti jodoh.

Dia merasa beryukur karena bisa memiliki waktu yang lebih banyak untuk berbakti pada orang tua.

Dia merasa bahwa Allah begitu adil karena dengan keadaan seperti itu dia merasa bahwa Allah ingin dia beribadah lebih giat lagi dan yakin bahwa Allah akan memberi balasan terbaik dari kesabarannya.

Kejadian yang sama. Dimaknai dengan makna yang berbeda, maka akan menghasilkan emosi dan tidankan yang berbeda pula.

Ingatlah, jika saat ini Anda memiliki hutang 1 Milyar, di luar sana ada yang memiliki hutang hingga 60 Milyar tapi masih bisa bangkit dan menjadi penguasaha sukses. Dialah pak Heppy Trenggono.

Ingatlah, jika saat ini Anda tidak merasakan kasih sayang orang tua entah karena yatim piatu atau karena orang tua Anda berpisah, di luar sana ada anak-anak yang orang tuanya berpisah, namun bisa sukses besar dan memimpin negara dua periode. Dialah bapak SBY dan Obama.

Ingatlah, jika saat ini Anda belum menemukan jodoh sejati Anda, di luar sana masih banyak stok jomblo yang berlimpah baik tua maupun muda. Namun diantara mereka ada yang tetap bisa bangkit dan tidak meratapi kesendirian.

Jadi bukan masalah yang membuat kita lemah.

Namun bagaimana kita MEMAKNAI masalah itulah yang memberi perbedaan besar apakah kita bisa menjadi pribadi yang lebih kuat atau pribadi yang semakin lemah.

Ada sebuah ayat yang menjadi penghibur saya sejak dulu hingga sekarang.

Jika Anda tanya pada saya tentang rahasia semangat saya, maka ayat inilah salah satu sumber terbesar kekuatan semangat saya.

Ayat ini terlintas tiba-tiba dalam hati saya ketika bangun tidur pada waktu fajar. Tiba-tiba dalam hati ada dorongan “buka surat an-Nisa ayat 40”.

Tentu saja saya masih bingung. Kenapa dalam hati ada dorongan semacam ini?

Entah kenapa hati saya tiba-tiba langsung bisa menyebutkan dengan jelas Surat dan juga ayatnya. Padahal sebelumnya saya tidak pernah terbesit sekali pun untuk membuka ayat itu.

Lalu ketika saya buka surat an-Nisa’ ayat 40, Allah memberi pesan yang membuat saya benar-benar menangis.

Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”

Peristiwa itu terjadi ketika saya masih duduk di kelas 2 Aliyah akhir. Kira-kira tahun 2008. Sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Waktu itu saya merasakan ada ketidakadilan. Waktu itu saya mersa mengalami masalah besar. Waktu itu semangat saya benar-benar down.

Lalu, Allah hibur dengan kalimat “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah,”

Seketika itu saya tersadar bahwa apapun yang Allah berikan pada saya adalah sebuah kebaikan. Allah tidak pernah mendzalimi hamba-hambaNya. Mengapa harus bersedih hati?

Yakin bahwa Allah Maha Baik?
Yakin bahwa Allah Mha Adil?
Yakin bahwa Allah Maha Penyayang?

Jika kita yakin bahwa Allah selalu memberi yang terbaik untuk kita, maka tidak ada alasan lagi untuk mengeluh dan larut dalam kesedihan.

..وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2: 216)

Sedih, menangis, kecewa dan marah adalah hal yang wajar dan lumrah bagi kita

Namun akan menjadi “kurang ajar” jika perasaan-perasaan tidak positif itu menjadikan kita menutup mata atas semua kenikmatan yang Allah berikan.

Percayalah, sebesar apapun masalah yang kita hadapi saat ini, jauuuh lebih besar nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Musibah atau episode kepahitan yang kita alami sat ini ibarat satu titik kecil tinta hitam dalam satu samudera kenikmatan Allah.

Maka jangan fokus pada satu titik kecil yang membuat kita larut dalam kesedihan. Fokuslah pada hal-hal yang membuat Anda lebih bahagia. Itulah sumber kekuatan yang sesungguhnya.

Semoga Allah cukupkan hati kita kita dengan rasa syukur yang lebih besar dari musibah apapun yang menimpa kita saat ini.

Keep Learning & Growing

Salam SUPER SEMANGAT
A. S. Rizal | Santri Dahsyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares