Semangat Yang Gak Habis-Habis

Semangat Yang Gak Habis-Habis

Secara tidak sengaja Allah mengajariku rahasia bagaimana agar semangat tidak habis-habis

***

“Assalamu’alaikum Rizal sudah sehat beneran?”

“Kalau boleh saya mau ngundang antum untuk mengisi pelatihan enterpreneurship hari Kamis besok (28 Juni 2018) di kampus IAIN Kudus. Pesertanya sekitar 200 mahasiswa dari Kudus dan semarang”

Pesan WA dari teman tiba-tiba mengejutkan saya di tengah antrian pengurusan surat pengantar untuk pembuatan SKCK di kantor Kecamatan.

Gak salah nih tanggalnya? 28 Juni? pesan WA itu masuk tanggal 26 Juninya. Bukankah itu cuman selang sehari saja?

Tanpa berpikir lama saya langsung membalas

“Walalikumussalam. Ok. InsyaAllah” jawabku sepontan.

Jujur aja ketika saya menjawab OK, saya belum kebayang materi apa yang nanti akan saya sampaikan. Sebelumnya saya memang biasa memberi pelatihan di berbagai daerah dan beberapa pulau di indonesia.

Namun untuk materi pelatihan Enterpreneurship, saya belum pernah sama sekali. Bisa dibilang, tawaran dari temanku adalah debut pertama saya memberi pelatihan Enterpreneurship.

Biasanya saya memberi pelatihan menghafal cepat Asma, al-Qur’an dan pelajaran Metode Hanifida, Membaca Cepat, Leadership, Motivasi remaja, dan pelatihan menulis.

Meski baru pertamakalinya dapat materi entrepreneurship, saya tak semerta merta menolak tawaran dari temanku itu. Kalau mendadak seperti ini pasti ada kebutuhan mendesak. Biasanya disebabkan pembicara inti berhalangan hadir pas hari H.

Untuk memastikan itu, saya pun bertanya

“Tumben mendadak Yub?” tanyaku. Ayyub, itulah nama temanku.

“Aslinya yang ngisi pak Rektor & pak Warek 2 bag. Keuangan. Tapi belum bisa hari itu. Sementara kamis besok kami sudah kedatangan mahasiswa asing (Thailand) yang mulai mukim untuk kuliah S1 beasiswa. Jadi biar teman2 ma’had kompak tetap ada acara yang bermutu. Kaitan topik dll aku pasrah bongkokan pokoke manut sampean.” jawab temenku yang dulunya satu kelas di MA Attanwir Bojonegoro.

Ternyata dugaanku benar. Teman saya ini benar-benar membutuhkan keputusan cepat untuk mengisi kekosongan pembicara yang sudah direncanakan sebelumnya.

Ya. Saya yakin semua ini adalah sekenario terbaik dari Allah. Allah telah mengatu sedemikian rupa hingga akhirnya saya memiliki kesempatan untuk sharing dalam pelatihan setelah vacum dari pelatiah sekitar satu tahun.

Yang saya pikirkan waktu itu bukan honor atau kepentingan materi lainnya. Namun yang saya pikirkan adalah PELUANG untuk sharing kepada banyak orang melalui pelatihan seperti yang dulu-dulu pernah saya lakukan.

Saya memang sedang kangen dengan masa-masa itu. Masa dimana saya bisa mengajar dan membuat peserta merasakan dampak yang lebih positif setelah mengikuti pelatihan. Allah menjawabnya melalui temanku ini.

Bisa saja teman saya ini memilih pembicara lain. Namun, Allah menggerakkan hati dan pikiran teman saya untuk memilih saya sebagai badal (pengganti) dari pembicara inti.

Bisa saja saya menolak karena alasan tidak siap

Bisa saja saya menolak karena waktunya begitu mepet

Bisa saja saya menolak karena mengurus banyak orderan

Tapi saya memilih untuk menerma tawaran itu untuk tujuan yang lebih besar dan mulia. InsyAllah…

***

DILEMA

Tanggal 27 Juni saya gak bisa basa-basi untuk melakukan hal-hal yang sia-sia. Waktu pagi sampe siang saya manfaatkan betul untuk memikirkan dan merancang materi yang akan sampaikan.

Sebelum merancang materi, terlebih dahulu saya shalat hajat untuk meminta bimbingan Allah agar materi yang saya sampaikan benar-benar memberi dampak positif dalam jangka panjang untuk peserta.

Hal ini sudah diteladankan oleh mentor sekaligus guru saya dalam dunia Training, Abi Hanif dan Umi ida. Sebelum memulai pelatihan, beliau menyempatkan shalat hajat agar materi pelatihan yang disampaikan benar-benar bermanfaat bagi peserta dan mendapat ridho Allah.

Hal ini juga sebagai tameng bagi hati agar tidak berbangga dengan isi materi maupun gaya penyampaian yang dilakukan ketika training.

Ketika mendaat pujian, semata-mata kebaikan itu hanya dari Allah. Jika ada kekuarangan, semata-mata itu karena kami sebagai manusia yang masih terbatas kemampuannya.

Saya mengambil poisisi di Masjid Az-Zahra untuk merancang ide-ide saya. Banyak ide bermunculan hingga saya berpikir materi yang akan samapaikan terlalu panjang. Waktu 2 jam yang disedikan panitia belum tentu bisa kelar.

Waktu dua jam tentu waktu yang begitu singkat bagi saya. Karena training yang biasa saya lakukan biasanya minimal antara 4-6 jam perhari. Kalau untuk seminar, mungkin cukup lah dua jam. Tapi untuk training yang benar-benar intens dan serius, sebenarnya masih kurang.

Karena waktu Dhuhur mulai dekat, saya mengakhiri proses perancangan ide. Selesai gak selesai, saya akhiri. Siapa tahu masih ada waktu untuk menyempurnakan materi. Mungkin malamnya.

Namun disisi lain ada hal yang membuat saya dilema. Apa itu?

Tanggal 27 Juni adalah hari dimana buku Catatan Bisnis Yang Bikin Laris dilaunching. Buku ini sudah sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian pelanggan saya. Sudah beberapa pada inden sebelum hari Launching.

Bahkan hari ini tadi ada yang langsung transfer begitu saja ke rekening saya. Padahal input order saja belum saya lakukan. Saking antusiasnya dengan buku itu..

Seperti biasa, otak saya langsung saya foksukan untuk mencari solusi. Akhirnya, hal itu teratasi karena salah satu dari TIM WARRIOR saya menyanggupi untuk input order selama saya memberi pelatihan di Kudus. Alhamdulillah.. Allah memberi kemudahan.

***

Jam 14.00 persis saya mulai bertolak dari Rumah Randublatung menuju Kudus. Tak lupa sebelum lanjut perjlan saya menyempatkan update status “Otw STAIN Kudus. Bismillah” di WA maupun Facebook. Barangkali ada waktu, saya bisa mampir ke rumah teman yang bisa diampiri ketika saya disana.

Ada hal cukup menarik ketika saya melakukan perjalanan ini.

Pertama, perjalanan saya ke kudus sendirian adalah perjalanan pertama kali. Otak saya masih blank. Belum kebayang jalannya mau kemana. Berbekal keyaikanan kalau saya bisa sampa tujuan, saya beranikan diri untuk berangkat meskipun ada kemungkinan untuk tersesat seperti biasanya.

“Tapi sekarang kan ada HP. Bisa pakai google map biar bisa sampai dan tidak tersesat.?”

Nah, itu. Keunikan kedua adalah HP saya sedang dalam kondisi “tidak sehat.” Seringkali signal hilang sendiri. Kadang kartunya tidak terdeteksi sama sekali. Jadi meskipun ada Map, saya tidak bisa memaksimalkannya.

Namun dari hal kecil itu saya benar-benar mengambil pelajaran.

Apa itu?

Seoalah-olah Allah ingin mendidik saya untuk tidak ketergantungan dengan kecanggihan teknologi. Allah mengajarkan saya untuk tidak menjadikan keterbatasan teknologi sebagai alasan untuk tidak melanjutkan perjalanan.

Waktu itu hati saya benar-benar merasa tawakkal total pada Allah. Bukan tawakkal pada HP.

Lalu dalam hati tiba-tiba ada hikmah yang muncul seperti ini

“HP memang bisa membantumu memudahkan perjalanan. Namun, jangan hanya karena HP rusak atau gak bisa lalu kamu beranggapan kamu tidak bisa melanjutkan perjalanan”

Jleb!

Intinya tawakkal total pada Allah. Bukan pada teknologi atau alat apapun itu.

Dalam hati langsung teringat ayat “wa ala Allah fal yatawakkalill mukminun” (Q. 3: 160)

Hal ini secara tidak langsung mengubah fokus saya untuk melihat peluang. Bukan fokus melihat kendala dari apa yang sedang saya alami.

Saya pun melanjutkan perjalanan dengan sedikit sekali melibatkan GPS. Apalagi daya batre HP saya sudah mulai menipis. Jadi saya matikan untuk jaga-jaga ketika tiba di IAIN Kudus nanti.

Setelah melewati tahap demi tahap, tibalah saya di depan kampus IAIN Kudus sekitar pukul 17.30.

Gak pake lama, saya langsung membuka HP dan sempat syok ketika melihat batre yang tinggal 1% saja.

Saya buru-buru menghubungi teman saya dan mengabarkan kalau saya sudah tiba di depan kampus.

Agak lama saya menunggu. Teman saya belum kunjung datang juga. WA juga tidak dibalas.

Akhirya saya memutuskan untuk pergi ke Masjid al-Muttaqien dan mengabarkan ke teman saya kalo saya menunggu di masjid itu sekaligus shalat maghrib dan Isyak disana.

Tapi yang aneh, batre tinggal 1% kok gak habis-habis ya? Padahal biasanya langsung mati gak sampe semenit atau dua menit. Lha ini kok bisa tahan sekitar 5 menitan? saya benar-benar gak habis fikir sekaligus merasakan pertolongan Allah dalam masa-masa seperti ini.

***

SEMANGAT GAK HABIS-HABIS

Satu hal lagi yang benar-benar membuat saya merasa aneh adalah setelah saya menempuh perjalanan kurang lebih 3,5 jam, sama sekali saya tidak merasa capek. Sebaliknya, saya malah merasa sangat bugar dan tidak ada keinginan sedikit pun untuk istirahat. Rasanya tidak seperti habis menempuh perjalan jauh.

Hal ini tidak biasa saya alami. Perjalan Randublatung – Kudus itungannya hampir sama dengan Randublatung – Jombang. Hanya selesih 30 menit lebih lama perjalan ke Jombang.

Biasaya kalo udah sampe Jombang, tubuh kayak udah capek dan bawaannya ingin langsung rebahan begitu tiba di lokasi.

Namun, waktu itu benar-benar berbeda dari biasanya.

Saya pribadi sampai bertanya-tanya, kenapa bisa seperti ini? apa yang sudah saya lakukan sehingga saya tidak merasa capek sama sekali?

Saya pun mulai melakukan analisis dari apa saja yang sudah saya lakukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Setelah saya cari tahu penyebabnya, ketemulah dugaan kuat mengapa saya tidak merasa capek. InsyAllah ini dugaan yang mendekati kebenaran karena memang ada landasan ilmiahnya.

Diantara sebabnya adalah…

Pertama, saya tidak mengkondisikan otak saya dalam perjalan jauh.

Sebelum saya berangkat dari rumah, saya bertanya pada bapak, apakah perjalanan dari rumah ke kudus jauh atau dekat. Bapak bilang, kudus itu dekat. Gak sejauh Jombang.

secara tidak langsung otak saya merekam bahwa perjalanan itu dekat. Karena dekat, secara mental saya merasa lebih ringan. Tidak terpikir untuk capek. Ini dugaan kuat yang pertama.

Kedua, perubahan keyakinan.

Jika sebelumnya saya meyakini jika perjalanan jauh itu capek, maka hasilnya pun bisa ditebak. Benar-benar capek. Sebaliknya, ketika saya mengubah keyakinan bahwa perjalan jauh itu menyenangkan, rasa capek itu hilang.

Ketiga, entah ini benar atau tidak, sebenarnya saya tidak begitu mau kepedean memiliki dugaan yang ketiga ini.

Dugaan saya yang ketiga adalah karena ketulusan untuk sharing.

Sebagaimana yang sudah saya sampaikan pada tulisan saya sebelumnya, ketika saya membaca kembali kisah Nabi Muhammad karya Martin Lings, saya kembali diingatkan tentang arti ketulusan ini.

Ketulusan inilah yang membuat Rasululullah dan para shabatnya memiliki keteguhan hati dalam memperjuangan agama Allah.

Ketulusan inilah yang membuat beliau-beliau tidak pernah merasa capek dalam mengemban misi dakwah dan pemberdayaan umat.

Ketulusan inilah yang membuat ‘stok semangat’ beliau-beliau seolah tak ada habis-habisnya. Bisa dibilang, ketulusan adalah “sumber” sekaligus “roh” dari semangat itu sendiri.

Hal ini pula yang saya rasakan ketika saya menerima tawaran dari temanku. Jika pun belum bisa dibilang tulus, minimal saya berusaha menuluskan hati saya untuk melanjutkan misi dakwah dan pemberdayaan umat.

Meski baru dugaan, saya sangat yakin jika 3 hal itu menjadi penyebab saya tidak merasakan capek meskipun dalam perjalanan jauh sekalipun.

Dari sini saya pun memiliki rumus baru agar tidak merasa capek.

Pertama, Ketika kita melakukan perjalanan jauh, kondisikan otak kita bahwa perjalan itu tidak jauh. Melainkan “perjalanan itu dekat”.

Dengan cara ini, otak kita merasa lebih “ringan” ketika melakukan perjalanan.

Karena ternyata, jauh dan tidak itu sangat relatif. Penilaian orang berbeda-beda. Ketika saya bilang Randublatung – Kudus dekat, teryata orang lain menganggpanya jauh. Standar jauh dekat tidak bisa dipastikan. Jadi, kita bisa memakai standar sendiri yang membuat otak kita merasa lebih ringan.

Kedua, ubah keyakinan.

Jauh hari sebelumnya saya sudah memprogram ulang sistem keyakian saya. Dulunya, sore atau malam saya selalu merasa kecapean dan tidak mood untuk melakukan aktivitas ‘pertumbuhan’. Seperti muroja’ah hafalan, baca buku maupun menulis.

Saya berpikir bahwa pekerjan di siang hari telah banyak menguras tenaga saya sehingga kehabisa tenaga pada malam harinya.

Waktu itu saya memiliki keyakinan, “jika saya bekerja seharian maka saya akan capek.”

Secara tidak langsung keyakinan ini selalu berhasil memerintahkan otak saya untuk mengkondisikan diri dalam keadaan ‘capek’ begitu saya selesai bekerja.

Keyakinan ini sangat umum terjadi pada siapa pun. Saya pun ikut terhanyut dalam keyakinan ini.

Namun, ketika saya mengubah keyakinan lama menjadi keyakinan baru, mood saya berubah begitu drastis!

Saya mulai tidak percaya bahwa yang menyebakan saya capek adalah bekerja.

Yang saya yakini saat ini adalah…

“saya capek jika saya mengkondisikan otak saya menjadi capek. Dan saya bisa mengkondisikan otak saya menjadi semangat dalam keadaan apa pun yang saya inginkan”

Efek dari keyakian baru ini, saya merasakan perasaan yang lebih positif dari sebelumnya. Jika sebelumnya malam saya gak mood muroja’ah, kini bisa kembali mood. Bahkan bisa lebih semangat.

Jika sebelumnya suka menunda menulis, saya menjadi bisa bersemangat ketika saya mengingikannya.

Sama halnya ketika saya menulis artikel ini.

Bisa saja saya tunda besok karena alasan capek setelah menempuh perjalanan “jauh”. Namun, saya tidak meyakini bahwa saya capek gara-gara perjalan jauh itu. Sehingga ketika saya menulis artikel ini, suasana hati saya pun masih terasa semangat.

Bahkan ba’da maghrib tadi saya langsung menghadiri tahlilan di rumah tetangga. Padahal sebelum maghrib persis saya baru tida di rumah.

Ketika tadi saya mau bilang keluar ke Wifi.ID, bapak bilang “apa gak capek?”

“gak pak” jawabku singkat sambil pringas-pringis… hehe

Dan ini tidak kebetulan. Jika hanya kebetulan, hal ini hanya terjadi sekali atau dua kali. Jika sering, maka bukan kebetulan lagi. Melainkan berpola dan bisa diulangi terus menuerus.

Alhamdulillah ini sudah berulangkali saya uji coba dan akan terus saya uji coba hingga kelak benar-benar menjadi konsep yang matang sehingga mudah utuk di duplikasi oleh banyak orang.

Anda pun bisa langsung mencobanya kalau mau.

Melihat kondisi saya yang merasa tidak capek ini saya malah jadi teringat ketika Ippho Santosa bertanya secara pribadi kepada Jusuf Kalla.

“Bapak melakukan berbagai macam aktivitas sebagai wakil Presiden apakah tidak capek?” Tanya Ippho

Secara Wapres ini gak kalah sibuknya seperti Presiden. Kunjungan banyak dan mobilitasnya cukup tinggi. Ditambah usia Jusuf Kalla yang sudah tidak lagi muda.

Mendengar pertanyaan itu jawab Jusuf Kalla mengejutkan sekali “memang seperti itu capek ya?”

What???

Umumnya, orang akan menilai jika aktivitas beliau melelahkan. Tapi bagi beliau, hal semacam itu sebagai sebab kecapean.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Jusuf Kalla tidak menjadikan alasan padatnya aktivitas beliau untuk merasa capek. Bahkan beliau heran kalo ada orang yang menilai akvitas beliau bisa bikin capek.

Namun, biar pun begitu, tubuh tetap ada hak untuk istirahat. Meskipun mental tidak merasakan capek, bukan berarti mengabaikan istirahat. Sesuatu yang baik tetap pada porsinya. Tidak sampai berlebih-lebihan hingga melupakan jam istirahat.

Rumus yang saya tulis ini hanya sebagai alat bantu agar kita tetap bisa mengkondisikan diri dalam keadaan semangat dimana kita harus semangat.

Karena lemah disaat seharusnya semangat, tentu sangat mengganggu akivitas kita. Begitupla semangat disaat seharusnya kita istirahat akan berpotensi menganggu sistem metabolisme tubuh kita. Semua ada porsinya masing-masing.

O iya. Rumus yang ketiga adalah Ketulusan. Saya tidak perlu menjabarkan panjang lebar lagi tentang ketulusan ini.

Sekadar ingin menguatkan bahwa Ketulusan adalah “sumber” sekaligus “roh” dari semangat yang tidak habis-habisnya. Semangat yang abadi.

Semoga sharing ini bermanfaat..

Boleh dishare dan disebarluaskan. Semoga menjadi amal jariyah dan viral bagi Anda.

Keep Learning & Growing

Salam SUPER SEMANGAT!
A. S. Rizal | Santri Dahsyat!

Note: Jum’at (29 Juni), aktivitas bisnis akan kembali normal lagi. Input order buku Catatan Bisnis yang Bikin Laris akan lebih dimaksimalkan. InsyaAllah

Bagi Anda yang sudah order namun belum dapat kabar dari kami, boleh hubungi kami di 0856 552 87 877. Kami siap membantu sepenuh hati.. insyAllah..

Bagi Anda yang ingin tahu lebih detail tentang isi bukunya, boleh tanya-tanya dulu sebelum Anda membelinya. Semoga bisa menjadi solusi bagi bisnis Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares