Mengapa Jualan Anda Tidak Laris-Laris?

Mengapa Jualan Anda Tidak Laris-Laris?

Bismillahirrohmanirrohim…

Ketika Anda membaca buku-buku penjualan, Anda mungkin tidak asing dengan kata-kata seperti ini “Niat jualan bukan semata-mata untuk mencari keuntungan belaka. Tapi untuk memberi manfaat kepada orang lain dengan produk yang kita jual”

pernah baca kata-kata itu?

Jika Anda membaca buku-buku Karya Dewa Eka Prayoga, pasti tidak asing dengan kalimat itu. Dan prinsip itulah yang diguanakan Dewa agar dagangannya bisa laris manis. Dan benar saja, apa pun yang Dewa jual, semuanya laris.. izin Allah..

Sepakatkah Anda dengan kalimat itu?

Yess.. kebanyakan sepakat. Saya pun sepakat dengan kalimat itu.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal lain.

Faktanya, ketika kita menerapkan niat ingin membantu orang lain dengan produk yang kita jual produk kita gak bisa langsung laris. Bahkan ada yang ‘menangis’ bahkan ‘meringis’ karena produk yang kita jual gak laris2. Apakah Anda termasuk?

Jika Anda pernah mengalaminya, berarti kita sama! saya pernah mengalaminya. Bahkan sering!

Meskipun teknik penjualan sudah dikuasai sekalipun, ternyata tidak cukup untuk membuat dagangan kita laris. Ada hal lain yang perlu Anda miliki agar Anda benar-benar bisa merasakan bagaiamana dagangan Anda bisa laris kejual… insyaAllah.

Yang saya sampaikan ini bukanlah hal baru. Namun, baru saya sadari setelah saya menyelesaikan membaca buku Rahasia Magnet Rezeki karya Ust. Nasrullah.

Selelah membaca buku itu, saya baru ‘ngeh’ mengapa 2 bulan pertama saya gabung menjadi Resellerbillionairestore.com tidak mendapatkan sales. Bahkan bulan-bulan berikutnya pun salesnya tergolong belum memuaskan.

Lalu, tanpa saya duga sama sekali ketika saya mencoba untuk serius, pada bulan Desember 2017, omset saya naik drastis. Bahkan langsung melesat dalam bingkai papan Top Reseller Billionaire Store. Sungguh, sebuah prestasi yang sama sekali tidak saya duga-duga sebelumnya.

Dalam berbagai kesempatan, saya seringkali menekankan pentingnya mindset dalam berjualan. Salah satu mindsetnya ya itu tadi, “Jualan itu aktivitas membantu orang lain”. Maka dengan mindset seperti itu, tidak ada lagi kata baper atau putus asa ketika ditolak.

Pertanyaannya, ada berapa orang yang memiliki mindset ini tapi tidak kunjung berhasil dalam jualannya? banyak!

Buktinya, ada puluhan ribu orang yang membaca dan memiliki mindset semacam ini. Tapi mengapa masih susah juga closingnya?

Dan mengapa saya, Kang Dewa atau mastah lain bisa berhasil melejitkan omset saya dengan mindset seperti itu?

Ternyata, mindset semacam itu tidak cukup. Mengapa ? karena mindset semacam ini masih berkutat dalam pikiran. Belum sampai pada perasaan yang benar-benar dalam.

Coba Anda ingat-ingat kembali. Ketika Anda berjualan, apa yang Anda rasakan dan pikirkan? apakah Anda benar-benar ingin MEMBANTU orang lain atau sekadar ingin MENGAMBIL keuntungan dari orang lain?

Apakah Anda benar-benar yakin bahwa Anda tulus ingin membantu orang lain? jika iya, apa buktinya?

Untuk lebih memudahkan penggambaran, mari kita lihat beberapa ciri orang yang TIDAK benar-benar tulus membantu orang lain dengan ciri-ciri orang yang benar-benar tulus membantu orang lain. siap?

Ciri Niat yang TIDAK Tulus dan NIAT Tulus

Catatan:

kata “dia” akan lebih pas untuk menilai diri sendiri. Bukan orang lain. Saya menggunakan kata “dia” agar tidak menghakimi Anda secara langsung. Bayangkan bahwa “dia” adalah Anda.

1. Egois, Sombong, Mencari pengakuan

Ketika berjualan, yang dia pikirkan adalah keuntungan pribadi. Kekayaan pribadi. Bukan memikirkan manfaat untuk orang lain. Buktinya, ketika ada orang menolak jualannya, ada rasa tidak terima atau kecewa terhadap penolakan. ini namanya egois.

Jika niatnya benar-benar tulus membantu, kenapa harus sakit hati saat ditolak? #PLAK!

Selain itu, dia juga butuh pengakuan orang lain dalam penjualannya. Misalnya dia ingin dianggap jago jualan, ingin dianggap ahli, ingin terkenal, ingin populer, dst…

Disamping itu, dia juga sombong. Merasa sudah benar sendiri hingga tidak mau menerima saran orang lain. Berhenti belajar. Meremehkan orang lain yang jualannya lebih sedikit daripada dia. Bahkan dia tak segan-segan meremehkan mentor dan buku yang ia baca. Hemmm…..

Hati-hati. Sifat semacam ini adalah penghalang rezeki dan ilmu. Rezki dan ilmu ibarat air. Hanya mengalir pada mereka yang rendah hati.

Pada poin ini, jika niat Anda benar-benar tulus, Anda akan terus belajar, tidak mencari pengakuan dan benar-benar ingin membantu orang lain untuk menyelesaikan masalahanya dengan produk yang Anda jual. Bukan malah berniat untuk memperkaya diri semata

2. Marah, dengki, dendam, dongkol, iri hati.

Ketika jualan, hatinya merasa marah, dongkol dan iri ketika pesaingnya lebih banyak mendapat orderan daripada dirinya.

Lebih parah lagi, dia sampai ‘menjahili’ pesaingnya agar sepi orderan. Atau bisa juga dia ‘mencuri’ pelanggan dari pesaing secara tidak wajar seperti menghasut pembeli agar tidak suka dengan pesaing kita. Komen order di status pesaing. Buka lapak di grop orang lain tanpa izin, dst..

Cara-cara seperti ini jelas tidak akan mendatangkan keberkahan dan keberuntungan. Maka, jauhui sikap semacam ini.

Termasuk memarahi Koordinator Reseller lah, suplier lah, owner lah, mentor lah, atau marah pada keadaan gara2 susah signal misalnya. Begitu pula memarahi pelanggan yang berbuat salah. Pelanggan yang salah itu baiknya dibenarkan dan ditunjukkan kesalahannya dengan santun. Bukan justru dimarahi..

Ketika Anda marah, Anda hanya akan memancarakan energi negatif. Energi negatif itulah yang nanti menjadi penghlangan rezeki Anda.

Jika Anda benar-benar tulus untuk membantu orang lain dengan jualan Anda, seharusnya Anda tidak ada rasa marah ketika pesaing Anda mendapat order yang lebih banyak daripada Anda. Justru Anda bersyukur ketika orang lain mendapat nikmat. Bukan malah marah, iri, dongkol, dan dendam.

Begitu juga sikap Anda dengan pelanggan Anda. Jika Anda benar-benar tulus membantunya, kenapa Anda memarahi dia ketika dia komplain dan menuntut kita?

prinsipnya, marah ilang, rezeki datang. Asyik?

3. Serakah

Dalam pelajaran ekonomi, mungkin Anda pernah mendengar sebuah ungkapan seperti ini,

“Ambil barang dengan harga semurah-murahnya, jual dengan harga setinggi-tingginya”.

Tahukah Anda, bahwa secara tidak langsung prinsip ini mengajarkan kita pada keserakahan? inilah ajaran kapitalis. Mau untung banyak, dengan sedikit kerugian.

Dalam satu sisi memang gak salah. Tapi ketika kita menjual menggunakan prinsip keserakahan, maka kita tidak akan mendapat keuntungan.

Yang ada, energi kita semakin terkuras, tapi hasilnya tidak maksimal.

Ciri penjual yang serakah adalah mau untung banyak, tapi sedikit kerja. Atau promonya biasa-biasa aja, ingin dapat hal-hal luar biasa. Pengen dagangannya laris, tapi gak mau banyak berusaha. Ini ciri serakah. Dan serakah ini menimbulkan penyakit malas.

Bukan hanya itu. Sifat serakah ini juga akan menimbulkan hal-hal tidak positif lainnya. Seperti curang dan melakukan manipulasi dalam transaksi. Inginnya mendapat hasil banyak, tapi dengan cara yang licik. Nau’uzubillah..

Jika Anda benar-benar tulus membantu orang dengan jualan Anda, seharusnya Anda bertindak jujur dan tidak serakah. Berusaha adil dalam memberi harga dan tidak mengambil hak orang lain hanya demi memenuhi nafsu keserakahan dalam jiwa

4. Rasa Takut

Takut gak laku, takut ditinggal konsumen, takut miskin, takut rugi, dst…

Ketika kita fokus pada yang kita takutkan, justru itulah yang akan terjadi. Karena dalam teori hukum ketertarikan, kita akan menarik hal-hal yang menjadi fokus perhatian kita. Kalau kita fokus pada hal-hal yang kita takutkan, maka itulah yang akan terjadi. Hati gak tenang, resah gelisah dan galau.

Coba rasakan kata-kata ini,

“Takut ditolak” diganti menjadi “ingin diterima”
“Takut miskin” diganti menjadi “ingin kaya”
“Takut gagal” diganti menjadi “ingin sukses”
“Takut rugi” diganti menjadi “ingin Untung”

Beda banget kan rasanya?

Maka, fokuslah pada hal yang Anda inginkan. Bukan apa yang Anda takutkan. siap?

Jika Anda benar-benar tulus membantu orang lain dengan produk yang Anda jual, seharusnya Anda tidak takut dengan penolakan dan kerugian. Karena niat membantu orang lain saja sudah menguntungkan. Apalagi jika produk Anda benar-benar dimanfaatkan. Keuntungannya doble

5. Resah, galau, khianat, dosa

Rasa takut yang berlebihan akan mengantarakan seseorang pada penyebab nomor 5 ini. Rasa gelisah, galau, dan bingung akan membuat ia masuk pada lembah dosa. Dan orang yang pada ciri ke-5 ini akan semakin terhalang rezekinya.

Udah hati gak tenang, ditambah rasa takut, eh, buat dosa sekalian.. komplit sudah..

Termasuk dzalim dan mengambil hak orang lain masuk pada ciri ke-5 ini. Maka, tidak ada ceritanya seorang pencuri yang hidupnya tenang. Tidak ada ceritanya orang yang transaksinya curang, hidupnya tentram. Sebanyak harta apapun yang didapat, tidak akan membuat hati lega dan bahagia.

Maka, buang rasa-rasa ini. Jualan makin tenang, rezeki akan cepat datang. InsyaAllah..

Pantaskah Anda disebut tulus membantu orang lain jika dalam transaksi jual beli, Anda justru melakukan pengkhiantatan terhadap pelanggan Anda? Pelaanggan udah transfer, tapi barang gak diantar-antar tanpa sebab pasti. Ini ciri khianat.

6. Putus Asa, hilang gairah, panik

Kalo udah masuk ke ciri nomor 5 dan tidak segera bertaubat, maka dia akan naik level menjadi ciri ke-6. Yaitu Putus Asa!

Pada tahap ini, dia sudah tidak punya gairah lagi. Segala cara yang dia upayakan tidak membuahkan hasil sama sekali. Berbagai macam mentoring dia ikui. Buku-buku motivasi dan bisnis yang telah dia baca tidak menghasilkan sama sekali. Maka, jadilah ia putus asa!

Merasa Allah gak adil dalam membagi rezeki. Merasa bahwa dia gak bakat jualan. Merasa dia gaptek sehingga gak mampu jualan online. Dst…

Intinya ia putus Asa.

Dan jika rasa putus asa ini terus dipupuk dalam hati, yang tejadi justru adalah kerusakan demi kerusakan. Tidak akan memperbaiki keadaan.

Meskipun niat jualan Anda adalah membantu orang lain, jika Anda merasa putus asa, maka tidak akan ada efeknya. Sama sekali.

Kalau putus Asa pas dia sudah berusaha, mungkin agak pantes (meskipun sebenarnya tidak pantas). Yang lebih parah adalah belum berusaha, udah putus asa duluan! ini lebih parah!

Belum-belum, udah merasa gak bisa. Belum-belum, merasa gak mampu hanya karena umur yang tidak lagi muda. Belum-belum, udah merasa gak bakat. Padahal belum dicoba.. jadilah dia banyak mikir. Tapi gak ada action sama sekali!

Ada hasilnya? ada! yaitu putus Asa yang semakin dalam. Apakah itu yang Anda inginkan?

Jika Anda benar-benar tulus membantu orang lain, niat Anda bukan semata-mata membantu orang lain. Tapi sudah masuk pada level pengabdian. Dimana Anda tidak lagi mengharap pamrih dari manusia. Bahkan Anda tidak menghadap pamrih dari Allah

inilah ciri ketulusan yang lebih tinggi. Ibarat seorang ibu yang merawat dan mendidik anaknya. Yang ibu lakukan tulus berdasarkan kasih sayang dan cinta. Bukan semata-mata mendapat balasan dari anaknya.

Begitupula dengan penjual yang benar-benar tulus menjualkan produknya. Dia tak lagi berharap pamrih. Mau ditolak atau diterima, ia tawarkan barang dagangan itu dengan penuh cinta dan ketulusan. Ia ingin orang lain hidupnya lebih mudah dengan produknya. Ia ingin pelanggannya bertumbuh dan bahagia. Yang ia fokuskan adalah kebahagiaan oran lain. Pelanggannya, mitranya, juga resellernya.

Sifat “Putus Asa” sudah tidak ada lagi dalam index perasaaan hatinya. Karena niatnya tulus untuk mengabdi. Membantu orang lain. Menjadi sebab kebahagiaan orang lain. Bukan semata-mata mengambil keuntungan dari orang lain. Dia gak peduli mau pemula atau sudah mastah. Yang ia pikirkan, bagaiamana caranya ia bisa membantu orang dengan lebih baik?

7. Rasa bersalah

Pada Kondisi tertentu, putus asa bisa mengantarkan seseorang pada hal-hal yang diluar logika manusia. Seperti bunuh diri atau membunuh orang lain. Na’udzubillah…

Pada kondisi jiwa seperti ini, biasanya disebabkan oleh rasa malu yang mendalam. Perbuatan dosa yang dipergoki, berbuat curang yang ketahuan, ‘aib’ pribadi yang tersebar luas, dst..

Termasuk hutang yang sudah lama gak dibayar-bayar. Pas ketemu sama yang menghutangi, malah lari dan menghilang begitu saja.

Maka, pada kondisi ini seseorang akan mengalami gangguan jiwa yang cukup hebat. Stress yang berkepanjangan. Rezeki pun semakin seret karena terhalang perasaan semacam ini.

Rasa bersalah sebenarnya baik. Namun, jika rasa berasalah itu berlebihan apalagi sampai mengantarkan pada hal-hal yang tidak pantas, maka akan semakin memperburuk keadaan.

Jika Anda niat benar-benar tulus, Anda tidak perlu merasa malu ketika dikirtik pelanggan. Justru Anda menganggap bahwa pelanggan Anda sedang peduli dengan Anda. Kritikan itu dilontarkan sebagai wujud kepedulian terhadap diri Anda. Terlepas dari cara dan kata yang diucap, apapun bentuk kritikannya, hal itu adalah sebuah anugerah yang perlu Anda terima

Selain itu, Anda akan lebih fokus untuk menyelesaikan masalah dan memperbaiki keadaan daripada larut dalam kesedihan dan rasa bersalah yang begitu mendalam.

Anda pun sangat mudah mintaa maaf ketika Anda menyadari di posisi yang salah. Tidak membela diri apalagi menutup diri

8. Depersonalisasi

Pada level ini, seseorang sudah tidak peduli lagi benar dan salah. Satu-satunya standar yang ia gunakan adalah kebenaran sesuai dengan pendapat dia sendiri. Keras kepala. Bebal.

Sudah terbukti salah, tapi gak ngaku salah. Justru ngelunjak. Diberi nasehat dan ilmu bukannya berubah, justru menjadi-jadi.

Hal ini bisa kita lihat seperti pemimpin yang korup, rakus dan zalim. Mereka merasa bahwa mereka barjasa pada umat manusia, tapi dia tidak melihat dari sisi kemanusiaan bahwa hal itu justru merusak.

Orang yang pada level ini, ketika jualan tidak pandanng bulu lagi. Mau pake cara haram atau halal tidak lagi peduli. Bahkan tak jarang dari mereka yang pergi ke para normal untuk mendapat penglaris dengan cara-cara syirik.

Niatnya memang membantu orang. Namun, dia menggunakan cara-cara yang tidak etis bahkan menerjang aturan agama. Secara jangka pendek memang untung. Namun jangka panjang akan mengalami kerugian besar. Rugi dunia, rugi akherat. Na’udzubillah….

Jika Anda benar-benar tulus membantu orang degan baik, Anda hanya akan menggunakan cara-cara yang baik

Selalu ada pilihan cara yang halal jika kita fokus mencarinya. Sebaliknya, akan selalu ada cara haram jika kita tidak sungguh-sunggu mencarinya

Allah berfirman

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69)

Itulah 8 Ciri-ciri orang yang benar-benar Tulus membantu orang lain dengan jualannya dan orang yang tidak benar-benar tulus dalam membantu orang lain.

Setelah saya tau ilmu ini, saya semakin mengerti, megapa 2 bulan pertama saya tidak ada penjualan sama sekali. Komisi nol! benar-benar nol!

Ternyata waktu awal-awal masuk menjadi Reseller, energi negatif saya benar-benar tidak terbendung.

Seperti promosi gak laku-laku, akhirnya dongkol. Koordinator Reseller yang ngasih pemberithuan promonya mepet, akhirnya komplain. Internet susah, akhirnya mengeluh dan menyalahkan.

Ya. Isi perasaan saya dipenuhi oleh hal-hal tidak positif. Akhirnya outpun yang keluarpun tidak positif. Dan akhirnya saya mendapat ganjarannya. Jualan saya tidak laku pada 2 bulan pertama meskipun saya tau teknik penjualan.

Beda halnya ketika saya benar-benar serius menjual dan berusaha memperbiaki niat, strategi, mental dan pikiran saya. Hasilnya benar-benar Wow!

Dari yang awalnya hanya omset sekitar 6 digit, lalu naik drastis menjadi 8 digit!

Saya ingat betul. Awal-awal saya semangat menjual itu ketika Mbk Tri Widayanti mau merilis buku From Reseller to Business Owner. Melihat judulnya saja, hati saya sudah sangat semangat!

mengapa?

Karena saya pribadi juga bercita-cita sebabagi business Owner. Dan bisnis Owner yang kuat dan kokoh berawal dari Reseller yang tangguh.

Nah, semangat itulah yang ingin saya tularkan. Saya ingin mempromosikan buku ini agar semakin banyak reseller yang terbantu menjadi business owner. Saya ingin berbagi semangat dan ingin Reseller lain bertumbuh. Maka, saya mengabdikan diri saya untuk menjual buku ini lebih banyak lagi!

Niat awal yang inginnya dapat komisi, berubah menjadi ingin ‘mengabdi’. Ingin orang lain tumbuh dan berdaya.

Awal-awal memang seperti biasa-biasa saja. Namun, siapa menduga, Allah membuka jalannya. Sehinnga waktu itu, WA saya tanpa henti kebanjiran order buku resellertobusinessowner.org ini. Luar biasa! izin Allah…

Bermula dari situlah, akhirnya pada Bulan Desember pertamaklainya saya masuk dalam jajaran TOP Reseller Billionaire Store.

Dan sejak saat itu, bulan-bulan berikutnya keran rezeki seolah terbuka lebih luas lagi. Hingga beberapa bulan terakhir ini omset saya masih konsiten di atas 10 juta/bulan. izin Allah…

Nah, setelah melihat 8 Ciri Orang Tulus dan Tidak Tulus yang saya sampaikan sebelumnya, coba sekarang cek, adakah ciri-ciri ketidak tulusan dalam hati?

Jika masih, maka saatnya berlatih untuk membuang ciri-ciri hati yang tidak tulus. Saya sendiri mulai melatihnya.

Karena sekelas Anthony Robbins. Pembicara No. 1 Dunia sendiri mengakui bahwa

Ketulusan adalah kekuatan terbesar dalam kehidupan manusia. Hanya dengan ketulusanlah kita bisa meraih-hal-hal besar dalam kehidupan kita.

Bagaimana dengan Anda?

Semoga artikel ini bisa membuka wawasan Anda. Jika Anda tercerahakn setelah membaca tulisan ini, hal ini bukan semata-mata karena kehebatan saya dalam menulis. Namun, semata-mata petunjuk Allah yang dihadirkan kepada Anda agar Anda berubah menjadi lebih baik.

Maka, manfaatkan momen ini sebagi perubahan besar yang lebih positif lagi.

Saya hanya penyambung lidah yang berharap semoga Allah hadirkan banyak kebaikan dari apa yang saya tulis ini. Wallahua’lam

Keep Learning & Growing

Salam SUPER SEMANGAT!
A. S. Rizal | SantriDahsyat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares