Dia; Ayat Allah di Muka Bumi

Dia; Ayat Allah di Muka Bumi

Waktu itu masih zamannya BBM, tiba-tiba ada pesan dari BBmessengger,

“Kang, bisa ketemuan gak, mitra bisnis Saya kabur, Saya pengen ketemuan,”

Pesan pendek ini langsung menyala di kepala Saya. Terjadi. Iya… terjadi. Saya langsung menyadari bawah ada sahabat yang sedang mengalami masalah yang tidak mudah.

Singkat cerita, intinya dia harus nenanggung 7,7M dana pihak ketiga. Dana yang sejatinya hanya lewat ke mitra utama kemudian harus menjadi tanggung jawabnya. Ratusan orang. Tidak main-main. Mitra utamanya lari dan dia harus menanggung ini sendirian.

Kejadian ini terjadi sekitaran 2 pekan setelah dia menikah. Pengantin baru. Harus dikejutkan dengan keadaan berat. Semua asset melekat habis disikat. Rumah orang tua di daerah Sukabumi terus menerus diancam orang. Sosoknya jadi bulan-bulanan ratusan orang yang menuntut kembali cepat.

Alhamdulillah Allah memberi kesempatan bergerak. Posisi beliau juga korban. Tetapi korban combo. Korban yang harus menanggung korban yang lain. Sang mitra utama kabur hingga tulisan ini ditulis. Tidak jelas ada dimana.

Dalam keadaan jatuh seperti ini, lagu lama pun berdendang. Yang dahulu dekat tetiba menjauh. Yang dahulu mendukung tetiba mencaci. Yang dahulu menemani tetiba memusuhi. Yang dahulu akrab tetiba berjarak. Hidup jadi sepi, sendiri, terpojok.

Waktu itu Saya sedang membangun Muda Mulia. Di niatkan jadi tempat tumbuhnya anak muda. Tetiba Allah datangkan dia, pasti ada maksudnya. Ini ujian bagi pribadi Saya.

Dalam sebuah pertemuan hangat, masih teringat ucapku padanya…

“Sekarang akang abangmu. Yang lain boleh menjauhimu, tetapi akang sahabatmu. Dulu kita cuma temenan, dengan masalah ini, kita sahabatan, antum sahabat ane.”

“Bersamalah di Muda Mulia. Jangan sendirian. Disini banyak kawan. Kalo sudah begini, harus ada teman. Ajarkan teman-teman Muda Mulia akan pengalamanmu”

Saya memang sedikit gila saat itu. Mungkin banyak gilanya. Dia yang sedang mendapatkan serangan publik malah kami muliakan di komunitas kami. Naik panggung, menjadi bagian dari Guru Muda Mulia. Bahkan kami meminta beliau dan Istri untuk berbagi tentang terpaan cobaan ini di depan ratusan sahabat peserta training Muda Mulia. Talkshow di saat jatuh. Menyimak semangat seseorang yang memilih untuk berjuang ditengah kemustahilan yang ada.

Setelahnya Saya mendapati bertubi-tubi pesan, mengapa sosok punya masalah malah dipanggungkan. Tapi itulah logika terbalik yang Saya yakini. Setiap orang boleh punya salah, boleh punya kelalaian, tetapi selama dia mau berjuang, berarti dia berhak punya masa depan, dia berhak bangkit dan berhasil.

Hatinya baik, dia sadar apa yang Saya hadapi…

“Maafin ya kang, Saya disini malah bikin akang repot, makasih pisan semuanya..”

Saya yang juga sadar gak bisa banyak bantu juga membalas celotehnya,

“Akang cuma bisa bantu begini, akang juga gak ngerti jalan keluarnya dari mana, tetapi yang akang tahu, kalo jalannya gak kelihatan, bukan berarti gak ada jalan. Yang penting antum terus bergerak, semangat, yakin.”

Semangatnya menyala…
Perasaan sedihnya mulai disapu optimis…
Langkah beratnya mulai ringan…
Sorot matanya mulai kembali menemukan kepercayaan diri….

Saat itu Saya menatapnya dari kejauhan. Dia bersama istrinya. Di majelis kami. Penuh semangat menghadiri ta’lim kami. Melayang imajinasi Saya. 7,7M yang harus dikembalikan. Kondisi tidak punya apa-apa. Kendaraan tiada, rumah ngontrak, rekening harus dikosongkan, yang ada hanya HP, dari situ dia mulai semuanya.

Mustahil…
Otak logis Saya juga bilang mustahil….
Tapi bersyukurnya, manusia tidak hanya dibekali otak… tapi juga hati…

Otak isinya fikiran…
Fikiran terbatas… karena memang ilmu itu terus tumbuh….

Hati isinya iman…
Iman ini yang tidak terbatas… di detik ini Allah turunkan iman… tiada hati yang bisa menolak…

Maka Saya melihatnya dalam iman…
Jika Allah ridho dan ingin membantu, mudah bagi Allah menolongnya….

Akhirnya diskusi kami tentang Doa Nabi Muhammad shallahu’alaihi wassalam, tentang Tongkat Nabi Musa, tentang Nabi Yunus yang ditelan gelap, tentang keyakinan, tentang arti keimanan… itulah diskusi kami…

Maka Saya dan Dia akhirnya memilih berjalan dalam iman. Saya mensahabatinya dalam iman. Bukan dalam kepentingan logika. Saya imani bahwa semua bisa dilalui jika Allah ingin menolong.

Dalam kebersamaan, Saya suka melihat dia berdoa. Selesai salam, dipejamkannya mata, mengalirlah air matanya, diangkatlah tangannya dalam-dalam. Di masjid tersebut Saya melihat mahalnya iman. Mahalnya arti berserah dan minta tolong, jauh dari takabur atau merasa bisa. Menyerah. Dalam kemustahilan.

Waktu terus berlalu…
Keadaan mulai membaik…
Serupiah demi serupiah sudah terbayar….

Sedikit di luar logika, lagi gagal bisnis malah menulis buku bisnis. Tapi itulah iman. Menurut otak tidak mungkin, tetapi bagi iman, itu mungkin. Dan bisa. Larislah buku. Larislah produk. Perlahan namun pasti, para sahabat terbayar sedikit demi sedikit.

Menuju 30% sisa bayar, lagi-lagi badai jilid II menghampiri beliau. GBS, gangguan Syaraf tepi. 95% pengidap ini harus menemukan kematian. Beliau lumpuh berpekan-pekan. Syaraf motorik dihajar. Antibodi beliau tetiba bekerja menghajar syaraf.

Itu akhir 2016, bicara tidak bisa, lumpuh. Saya saat itu sedang di Perth, ditelpon istrinya, terisak-isak suara dari Indonesia…

“Kakang, maafkan suami jika ada salah, mohon doa, sudah kritis, pake alat bantu nafas…”

Kaki ini lemas, pandangan Saya kosong, duduk diam di Perth Airport. Apalagi yang Allah mau ujikan ke Dia. Lagi-lagi Dia harus melalui kemustahilan jilid II.

Tapi dari hati terdalam, Saya yakin beliau bisa melalui ini semua. Diskusi kami di tahun 2012 pastilah beliau ingat. Ilmu iman mudah-mudahan melekat. Alhamdulillah krisis terlewati.

Dia telah keluar rumah sakit. Hanya 2 jari yang bisa bergerak. Lumpuh. Tidak bisa berdiri. Ke kamar mandi dipapah. Waktu itu sekitaran januari 2017. Saya kembali menantang imannya :

“Bro, Kang Rendy punya acara Temu Nasional SBDKK, awal Maret. Ente pembicara ya, banyak yang kangen sama antum..”

Dia membalas wajar.. chat berlanjut

“Saya sampe sekarang ngomong gak jelas kang, berdiri gak bisa, gak janji kang…”

Saya lagi-lagi menantang imannya…

“InsyaAllah, Maret bisa bicara dan berdiri. Berdirilah didepan kami sebagai Ayat Allah di muka bumi. Tunjukkan ke kami bahwa Allah itu ada, Allah itu Maha, ayolah….”

Saya menambahkan..

“Jika tidak bisa berdiri, duduklah… jika tidak bisa bicara.. ketiklah… panggung milikmu…”

Dari ujung sana.. sebuah keimanan diketik..

“Siap kang…”

Tidak terasa Maret datang. Entah apa yang dia lakukan. Entah apa yang dia kerjakan. Entah semangat apa yang ada didalam dirinya. Dia berjalan dalam keterbatasan, bicara lancar, tegas.

Awalnya dia ceramah duduk, di akhir dia berdiri. Merinding Saya melihatnya. Dan akhirnya Saya menyadari, inilah tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi. Dialah ayat Allah di muka bumi. Nyata bagi mata batin kita semua.

Episode badai finansial dia alami…
Mustahil menyelesaikan dalam asset yang 0, dalam network yang cerai berai, dalam persepsi publik yang negatif… mustahil bagi kita… tapi bagi dia yang bergerak dalam iman… semua seperti membelah lautan.

Episode badai personal, dijauhi orang, ditinggalkan teman, akhirnya berbalik keras. Beberapa sahabat yang menjadi “korban” mitra utama malah meminta agar Dia tidak usah mengembalikan apa-apa. Malah bekerja bersama menjadi timnya. Orang-orang baik mulai didekatkan.

Episode badai sakit fisik juga tidak bercanda. Pengobatan hingga hampir 1M, keadaan kritis, menari bersama kematian, keadaan tubuh seperti diulang dari nol. Dan ini pun dilalui.

Hari ini banyak orang yang mengenalnya sebagai sosok marketer. Beliau banyak bicara tentang ilmu jualan dan marketing. Itulah karunia yang Allah berikan ke beliau. Menempuh kesulitan ini dengan berdagang.

Tetapi yang mahal dari dalam dirinya adalah keteguhan keimanannya. Saya pun muridnya, benar-benar mengakui bahwa diri ini muridnya. Yang mahal dari Dia keimanannya.

Nilai iman itulah yang HARUSNYA Dia bagikan. Nilai keyakinan itulah yang harusnya Dia buka… maka Saya mendatangi Dia dengan keras…

“Bro, ditulis bro, banyak orang yang mengalami seperti apa yang antum pernah alami, tolong tulis, ijinkan kami belajar…”

Dia hanya diam…..
Namun bekerja dalam diam…

“Melawan kemustahilan”

Buku yang Anda pegang saat ini bukanlah sekedar rangkaian kata-kata. Ia adalah pusaran energi iman seseorang. Seseorang yang telah bersujud dalam lapis-lapis badai ujian langit. Badai yang menuntunnya menemukan logika iman. Ini yang akhirnya mahal : logika iman.

Buku yang sedang Anda pegang ini tentulah bukan hadir tanpa sebab. Bisa jadi Anda beli, bisa jadi dihadiahi oleh teman Anda, bisa jadi karena menarik mata batin Anda saat buku ini berada di rak buku.

Apapun sebab buku ini ada di tangan Anda, adalah Allah yang ingin berbicara dengan Anda, adalah Rabb semesta ini yang ingin berkomunikasi dengan Anda, adalah Al Malik Sang Rajanya Raja yang sedang masuk kedalam kehidupan Anda.

Jangan sampai Anda tidak buka pintu. Allah sedang masuk ke kehidupan Anda. Maka ijinkan ayat-ayat Allah ini hadir didalam hati Anda.

Mungkin Anda sedang terlilit hutang…
Mungkin Anda sedang sakit keras…
Mungkin Anda sedang jatuh…
Mungkin Anda sedang ditinggalkan…
Mungkin Anda sedang kebingungan…

Dia yang menuliskan buku ini juga pernah mengalami itu semua. Pernah mengalami gelapnya gelap. Pernah mengalami jatuhnya jatuh. Pernah mengalami hinanya hina. Pernah mengalami cacinya caci. Pernah mengalami sepinya sepi. Namun akhirnya semua dapat terlewati.

Dia yang menuslis buku ini bahkan pernah bersentuhan dengan kematian yang teramat dekat. Dia yang harus berhadapan dengan kemungkinan lumpuh seumur hidup. Lalu kemudian dimampukan langit untuk menjalani hidup normal. Bahkan kembali punya momongan.

Dia adalah ayat Allah yang berjalan di muka bumi. Sebuah parade bagaimana Allah menolong makhlukNya, parade bagaimana Allah menunjukkan kekuasaanNya, Parade bagaimana Allah mempertontonkan iman yang bekerja di hati seorang hamba.

Dan Dia akhirnya menulis buku ini. Semoga menjadi jalan hadirnya energi langit ke hatimu. Semoga menjadi jalan terobatinya semua lukamu. Semoga jadi jalan sebab hebat gerakmu.

Dia… Dewa Eka Prayoga

Tertanda,
Murid Setianya,
Rendy Saputra

*****

Saya tulis sebagai kata pengantar buku Melawan Kemustahilan. Semoga berkenan Mas Tendi Murti KMO.

Foto dibawah, screen shoot Youtube, rekaman Kang Dewa di Temu Nasional SBDKK Maret 2017. Berdiri. bersuara jelas. Alhamdulillah.

 

 

Untuk order buku boleh klik jejaksemangat.com/mk atau WA ke 0852 33 66 99 22

Semoga menjadi titik perubahan yang lebih besar.

Harga PO: 99rb
Hagra Normal: 199rb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares