Cara Cepat Hafal al-Qur’an

Cara Cepat Hafal al-Qur’an

Bismillahirrhomanirrohim…

Bagaimana cara agar kita bisa lebih cepat menghafal al-Qur’an?

Pertanyaan ini seringkali muncul di hampir di semua orang yang sedang menghafal atau sekadar ingin menghafal al-Qur’an.

Ini wajar. Karena memang secara “defult” manusia memang disetting Allah memiliki sikap tergesa-gesa

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa… ” (QS. Al-Anbiya; 37)

Jangankan kita orang biasa, Rasulullah pun pernah mengalami masa dimana beliau ingin cepat-cepat menguasai hafalan al-Qur’an lalu mendapat terguran dari Allah. Nanti kita bahas detailnya.

Sebenarnya banyak tips yang bisa saya sampaikan. Namun, berdasarkan pengalaman saya pribadi, guru-guru saya, teman-teman saya dan juga beberapa murid-murid saya, ternyata rahasia agar bisa cepat menghafal al-Qur’an, ujung-ujungnya hanya bermuara pada ada 2 faktor fundamental saja. Ya. Hanya dua faktor saja.

Jika dua hal ini tidak ada pada diri seseorang, maka teknik atau metode secanggih apa pun tidak akan mampu membuat seseorang bisa menghafal al-Qur’an dengan cepat.

Faktor apa itu?

1. KETULUSAN
2. KESUNGGUHAN

Ketika mahasiswa saya bertanya, “Pak, gimana sih caranya agar bisa menghafal al-Qur’an dengan cepat?”

Spontan saya langsung menjawab, “Hanya ada dua faktor yang bisa mempercepat hafalan Qur’an. Pertama, Ketulusan. Kedua, Kesungguhan”

Lalu saya tanya kembali pada mahasiswa saya “apa niatmu menghafal Qur’an?”

“Saya ingin menghafal al-Qur’an karena di desa saya belum ada yang hafal al-Qur’an pak”

“Apakah niat semacam itu sudah dikatakan tulus?”

“Ya iya pak”

“Sekarang saya cek, setiap hari ngafal berapa halaman?”

“Gak mesti pak”

“Sekarang hafalanmu dapat berapa juz?”

“Baru setengah juz pak”

“Sekarang bawa Qur’an?”

“enggak pak” sambil tersenyum malu.

“Ketulusan dan kesungguhan seseorang tidak bisa dibuktikan dengan apa yang dia ucapakan. Tapi apa yang dia lakukan. Apa yang kamu lakukan belum menggambarkan orang yang tulus dan sungguh-sungguh”

Lalu saya menjelaskan secara detail tentang arti ketulusan dan kesungguhan kepada mereka.

Materi kuliah waktu itu memang bukan materi tentang Tahfidzul Qur’an. Melainkan materi Edupreneur. Hanya saja, karena baru pertamakali masuk setelah liburan, saya memberi kesempatan mereka untuk bertanya hal apapun yang ingin mereka ketahui.

Mungkin Anda mulai bertanya-tanya, “masak sih cuman ketulusan dan kesungguhan bisa mempercepat hafalan Qur’an?”

Sebagian dari Anda mungkin sudah berusaha berniat tulus dalam menghafal al-Qur’an,

Sebagian dari Anda mungkin sudah bersungguh-sungguh dalam menghafal al-Qur’an,

Namun ternyata tetap merasa lamban dalam menghafal al-Qur’an. Bukan kah begitu?

Berarti salah dong kalau saya bilang bahwa faktor percepatan hafalan itu adalah KETULUSAN dan KESUNGGUHAN?

Sebelum Anda memutuskan salah dan benar tentang dua faktor fundamental ini, izinkan saya untuk memberi penjelasan lebih lanjut sepert ini.

Pertama, tentang KETULUSAN.

Mengapa ini menjadi faktor pertama dan utama dalam mempermudah dan mempercepat proses menghafal al-Qur’an?

Tak lain karena ketulusan inilah yang membuat seseorang terbebas dari beban-beban berat yang menempel di hati.

Beban apa itu?

Beban ingin dipuji
Beban ingin diakui
Beban ingin cepat selesai menghafal
Beban rasa takut
Beban kemaksiatan
Beban kelalaian dunia
Beban penilaian orang lain..
dan seterusnya…

Orang yang tulus terbebas dari beban-beban semacam itu. Rasanya ya ringan saja. Enteng. Selow. Gak ngerasa macem-macem. Ngafal ya ngafal aja.

Orang yang tulus akan senantiasa menghafal al-Qur’an dengan penuh keringanan dan kepasrahan total pada Allah tanpa peduli dengan penilaian orang lain.

Ketika dia mampu menghafal cepat, ia beranggapan bahwa itu adalah karunia dari Allah. Bukan karena kemampuan dia dalam menghafal.

Ketika dia merasa lebih lambat dalam menghafal, dia merasa bahwa dia banyak dosa dan banyak dilalaikan dunia sehingga ia memperbanyak bertaubat, istighfar, instropeksi dri dan memperbanyak amal sholih.

Bahkan ketika dia mengalami kesulitan dan tidak hafal-hafal, dia menganggap bahwa ayat yang sedang ia hafal itu sedang kangen pada dirinya sehingga ia tidak mengeluh sedikit pun meskipun harus berlama-lama dengannya.

“Alhamdulillah, ayat ini lagi kangen sama saya. Dia ingin lebih berlama-lama saya baca dan saya ulang-ulang terus” begitu gumamnya ketika menghadapi kesulitan menghafal.

Sedangkan mereka yang tidak tulus dalam menghafal memiliki sikap berbeda dengan mereka yang tulus. Cirinya adalah,

Ketika mampu menghafal cepat, ia berbangga dan merasa bahwa kecepatan menghafalnya adalah kemampuan dirinya sendiri. Dia lupa bahwa Allah lah yang membuat dai bisa hafal.

Ketika ia lambat dalam menghafal, ia mengeluh bahkan sampai su’udzon pada diri sendiri kalau dia gak bakat menghafal. Alih-alih mau instropeksi diri dan bertaubat, mereka justru berputus asa dan tidak mau menghafal lagi.

Bahkan ketika ia merasa benar-benar sulit dalam menghafal, ia langsung berkesimpulan bahwa Allah tidak menginginkan dia hafal al-Qur’an. Kesulitan dianggap sebagai sebuah hambatan. Bukan kesempatan untuk meningkatkan kekuatan dan kesungguhan.

Orang yang tulus senantiasa fokus pada tujuannya menghafal Qur’an. Sedangkan mereka yang tidak tulus, akan mudah lalai dari tujuannya menghafal Qur’an.

Orang yang tulus menepis segala godaan yang bisa menghalanginya dalam proses menghafal. Sedangkan mereka yang tidak tulus sangat mudah sekali tergoda dan lalai dalam proses menghafal. Entah itu tergoda lawan jenis, TV, Sosmed, dst…

Itulah mengapa dalam al-Qur’an, orang yang paling ikhlas adalah orang yang paing sulit digoda oleh setan.

Ini mengisyaratkan bahwa ketika seseorang masih suka tergoda dengan godaan setan, itu tanda bahwa orang itu kurang ikhlas. Kurang tulus dalam menghafal.

Ini bukan saya yang ngomong ya. Tapi langsung dari al-Qur’an.

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”( QS. Al Hijr : 39 – 40)

Ini lah mengapa ketulusan menjadi faktor kunci dalam menghafal.
Kalau niat sudah tulus, maka segala sesuatu akan dikorbankan untuk tujannya.
Allah pun memudahkan proses menghafalnya.

Ini bukan sekadar teori ya. Tapi dalam praktik juga sama. Mereka yang tulus dalam menghafal, Allah berikan kemudahan dan kecepatan dalam prosesnya. InsyaAllah….

Saya pribadi merasakan hal itu.

Karena ya itu tadi. Mereka gak ada kebawa beban berat dalam hati mereka. Kalau masih kebawa beban berarti ya belum tulus.

Ibnu Qoyyim bertaka “Orang yang tidak ikhlas dalam beralam ibarat musafir yang membawa sekarung pasir. Memberatkan. Tapi tidak memberi manfaat apa pun”

Maka, langkah pertama adalah cek niat masing-masing. Sudahkah tulus karena Allah? atau masih ada beban-beban berat yang masih menempel di hati?

“Tapi mas, saya sudah bersuha tulus kok masih lambat menghafal ya?”

Pertanyaan semacam ini tidak akan muncul dari orang yang benar-benar tulus. Masih ingat dengan ciri tulus yang saya sebutkan sebelumnya kan? Justru hati yang tulus berpikir seperti ini “Ya Allah, adakah dalam hatiku niat yang belum tulus karena Mu sehingga ayat-ayat itu masih enggan singgah di hatiku?”

Orang yang ikhlas atau tulus akan selalu takut dan hawatir jika hatinya tidak ikhlas. Mereka selalu instropeksi diri.

Sedangkan orang yang tidak ikhlas seringnya mereka sangat PD kalau hati mereka sudah ikhlas. Sehingga hal itu membuat mereka lalai dari keikhlasan itu sendiri.

Gurunya guru setoran saya sampai berpesan “Kalau menghafal al-Qur’an hanya untuk mengejar ambisi, lebih baik tidak usah menghafal al-Qur’an sekalian. Bahaya!”

Artinya kalau kita hanya menghafal al-Qur’an hanya karena ingin berambisi sebagai seorang hafidz atau agar kita dianggap lebih dari manusia lain, lebih baik tidak usah menghafal sekalian. Karena kalau niat menghafalnya sudah tidak tulus, sudah pasti tidak bisa bertahan lama… DIJAMIN! ini sudah terbukti berkali-kali!

Ini artinya jika ada orang yang masih belum istiqomah dalam menjaga hafalan, berarti ia belum benar-benar tulus dalam menghafal.

Karena ketulusan adalah pondasi keistioqmahan. Semakin tulus semakin istiqomah. Semakin tidak tulus semakin tidak istiqomah. Ini baromaternya.

Sekarang tanyakan pada diri masing-masing, apakah sudah memiliki ketulusan dalam menghafal al-Qur’an?

Daripada mengaku sudah tulus, bukankah lebih baik merasa belum tulus sehingga kita selalu memperbaiki ketulusan hati dan instropeksi niat dalam menghafal? ^_^

Kedua, faktor KESUNGGUHAN

Ayat ayat dalam al-Qur’an tidak akan Allah titipkan kepada mereka yang MAU menghafal al-Qur’an. Namun hanya akan Allah titipkan kepada mereka yang BESUNGGUH-SUNGGUH menginginkannya.

Kalau umat muslim ditanya, apakah mereka ingin hafal al-Qur’an, sudah jelas mereka akan bilang INGIN atau MAU. Tapi kemauan saja ternyata tidak akan membuat ayat-ayat itu bisa melekat dalam hatinya.

Bayangkan saja, jika Anda punya barang yang super mahal. Katankanlah senilai 100 Milyar, apakah dengen seenaknya Anda akan menitipkan barang super mahal itu kepada sembarang orang?

Sudah tentu Anda hanya akan memberi kepercayaan itu kepada orang yang benar-benar amanah dan memiliki kesungguhan untuk menjaga barang super mahal Anda bukan?

Begitulah dengan ayat-ayat al-Qur’an. Allah tidak asal kasih amanah kepada sembarang orang. Ayat-ayat itu nilainya begitu tinggi. Allah hanya akan menitipkan karunia itu pada hambaNya yang bersungguh-sungguh ingin menjaga ayat-ayat itu. Bukan kepada mereka yang asal ingin mejeng atau sekadar ingin berbangga melalu ayat-ayat yang Allah titipkan itu.

Mereka yang bersungguh-sungguh dalam menghafal al-Qur’an akan selalu mencari CARA agar mereka hafal. Sedangkan mereka yang tidak bersungguh-sungguh dalam menghafal akan selalu mencari ALASAN mengapa mereka tidak segera menghafal. Adaaaa aja alasannya. Entah itu karena sibuk ngurus anak lah, ngurus bisni lahs, ngurus rumah lah, dst….

Padahal di luar sana ada orang-orang yang ‘lebih menderita’ dan lebih terbatas dalam fasilitas namun tetap bisa menghafal al-Qur’an secara sempurna. Ini hanya faktor kesungguhan dan prioritas saja.

Bukan hanya dalam menghafal al-Qur’an, tapi disetiap bidang apa pun kesungguhan dalam meraih apa yang diingkan menjadi kunci penentu. Meski kesungguhan tidak selalu berujung pada keberhasilan, tapi tidak ada satu pun keberhasilan yang diraih tanpa kesungguhan.

dalam surat al-Ankabut: 69, Allah berfirman;

“dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalanku, niscaya akan aku tunjukkan beberapa jalan”

Percaya gak percaya, jika kita memiliki kesungguhan dalam menghafal al-Qur’an, Allah akan bukakan berbagai macam solusi dan kemudahan agar kita bisa hafal. Bukan hanya kemudahan, tapi juga percepatan. InsyaAllah…

Adapaun jika saat ini kita masih merasa sulit dan merasa belum ada solusi, itu hanya karena kita belum bersungguh-sungguh untuk al-Qur’an.

=========

“Tapi saya lihat ada orang yang sungguh-sungguh tapi kok ngafalnya gak bisa cepet ya mas?”

Sekarang kita cek.

Kalau udah sungguh-sungguh tapi gak bisa cepat, apakah dia sudah tulus? kalau belum berarti perlu dituluskan niatnya…

“Tapi ada juga lho mas orang sudah niatnya tulus dan bersungguh-sungguh tapi gak cepet hafal Qur’an, gimana dong kalau gitu. Kan maunya cepet mas? teman-teman udah pada khatam sedangkan saya belum”

Saya hanya bisa elus dada kalau ada yang tanya seperti itu. Sebenarnya niat mereka hafal Qur’an itu apa sih? kenapa ingin cepat selesai? Apakah mereka berpikir kalau mereka sudah khatam menghafal 30 Juz al-Qur’an mereka akan lepas dan tidak menghafal lagi? that is point!

Kalau niatnya benar-benar tulus sejatinya cepat atau lamabat dalam menghafal tidak begitu dirisaukan.

Percaya tidak percaya, berdasarkan pengalaman justru mereka yang bisa menghafal dengan cepat rata-rata tidak berambisi ingin hafal cepat. Mereka menghafal ‘seuap demi sesuap’. Menikmati detik demi detik kebersamaan bersama al-Qur’an.

Ini sama ketika Anda mengalami hari-bari bersama seorang kekasih atau orang yang Anda cintai. Ketika Anda bersama orang yang Anda cintai, 1 jam serasa 10 menit. 1 hari serasa seperti sejam, 1 bulan serasa baru satu minggu. Ya. Karena Anda menikmati kebersamaan dengan orang yang Anda cintai.

Bahkan ketika berpisah, Anda merasa kesedihan yang sangat mendalam. Ada rasa rindu yang membuat Anda ingin selalu dekat dan bersama dengannya.

Beda halnya ketika Anda berhadapan atau bersama dengan orang yang tidak Anda sukai. Waktu 10 menit udah kerasa seperti satu jam. 1 hari udah seperti 1 tahun!!! sedikit Lebay ya. hehe

Tapi begitulah perumpamaannya.

Sekarang bandingkan waktu Anda dengan al-Qur’an. Apakah Anda lebih betah berlama-lama? atau merasa sangat terpakasa ingin segera menyelesaikannya?

Utsman bif Affan berkata, “Jika hatimu suci, nisacaya kamu tidak akan pernah kenyang (bosan) membaca kalam-kalam Tuhanku (al-Qur’an)”

Jangan jauh-jauh ke al-Qur’an. Saat Anda main sosmed berjam-jam rasanya tidak begitu terasa bukan? seolah-olah waktu berjalan begitu cepat. Tahu-tahu 30 menit berlalu. Tahu-tahu satu jam berlalu. Tahu-tahu satu hari berlalu tanpa melakukan hal-hal produktif.

Lebih betah mana? main sosmed satu jam atau bersama al-Qur’an dalam satu jam? Semua itu tergantung mana yang lebih Anda cintai.

=====

Tentang percepatan dalam menghafal al-Qur’an.

Sekarang saya tanya, standar cepat dalam menghafal al-Qur’an itu berapa lama?

Apakah 1 tahun?
Apakah 6 bulan?
Apakah 3 bulan?
Atau satu bulan?

Tidak ada standar pasti dalam menentukan kecepatan menghafal seseorang. Cepat itu sangat relatif. Tergantung dengan waktu yang kita BANDINGKAN.

Jika 1 tahun dibandingkan dengan 3 tahun, maka 1 tahun bisa lebih cepat.
Jika 3 tahun dibandingkan dengan 10 tahun, maka 3 tahun adalah waktu yang cepat.
Jika 10 tahun dibandingkan dengan 20 tahun, maka 10 tahun adalah waktu yang cepat.

Jadi, mengapa harus merasa bermasalah jika saat ini sudah menghafal 3 tahun belum khatam-khatam?

Umar Bin Khattab menghafal al-Qur’an selama 20 tahun enjoy-enjoy saja.. dan banyak contoh lainnya juga begitu. Ada yang 7 tahu, 10 tahun, 15 tahun, dst…

Masalah sebenarnya bukanlah seberapa cepat kita menghafal. Tapi seberapa SIGAP kita dalam MENYEGERAKAN menghafal.

Setan selalu memberi godaan dan memberi alasan untuk menunda-nunda menghafal al-Qur’an. Inilah yang sebenarnya masalah utamanya.

“Terus, kalau udah gitu gimana dong mas?”

Solusinya adalah kembali ke faktor pertama; KETULUSAN. Karena ketulusan inilah yang membuat setan tidak memiliki celah untuk menggoda kita.

Maka, ketulusan dalam menghafal harus terus dijaga. Selalu mohon pada Allah agar hati kita senantiasa memiliki ketulusan dalam menghafal al-Qur’an.

Saya sendiri tidak bisa menjami hati saya sudah tulus untuk Allah. Itulah mengapa saya selalu berdoa dan berusaha sekuat mungkin agar senantiasa memiliki niat tulus untuk Allah.

Jika menghafal mulai berat, maka itulah teguran Allah untuk kroscek niat dan perbuatan. Adakah niat yang belum tulus? adakah perbuatan yang dapat menciderai hati?

Rasa ingin cepat hafal itu wajar dimiliki oleh manusia. Rasulullah sendiri pernah mengalami rasa ingin segera cepat menghafal al-Qur’an. Ketika Rasulullah cepat-cepat ingin menghafal al-Qur’an, beliau langsung ditegur melalui firmanNya dalam surat al-Qiyamah: 16 – 17

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca Al-Qur’an), karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.”

“Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkan (di dadamu) dan membacakannya”

Jadi bukan usaha kita yang membuat kita hafal. Melainkan Allah lah yang mengumpukan hafalan itu ke dalam hati kita. Kita hanya berusaha memantaskan diri agar kita diberi amanah berupa hafalan al-Qur’an itu.

Kesimpulan,

Mulailah meghafal dengan kecepatan apa pun yang Anda mampu!
Cepat bukan berarti lebih baik
Lambat bukan berarti lebih buruk
Karena Allah tidak menilai hafalan kita melalui durasi dan kecepatan.
Allah menilai ketulusan, keabaran, kesungguhan dan tawakkal kita dalam proses menghafalnya

Jika niat menghafal al-Qur’an kita benar-benar karena Allah, seharusnya tidak perlu hawatir dengan berapa pun durasi yang kita habiskan dalam menghafal ayat demi ayat dalam al-Qur’an.

Jika kita benar-benar tulus, mau menghafal itu sulit, cepat, mudah, lamban, semuanya akan dijalani. Suka duka dilalui bersama.

Bukan karena cepat menghafal kita melanjutkan menghafal
Bukan karena lambat menghafal lalu kita berhenti menghafal

Mereka yang tidak tulus hanya ingin cari enaknya saja. Hanya kalau mudah dan cepat, mereka lanjut menghafal. Kalau sulit dan lamban, mereka menjadi malas menghafal… ini tidak tulus namanya!

Ingatlah bahwa,

Ayat-ayat suci hanya betah menyinggahi hati yang suci. Maka fokuslah perbaiki hati agar ayat-ayat itu betah berlama-lama menyinggahi hati kita. Inilah kunci percepatan yang sesungguhnya.

Dan kebersihan hati hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar memiliki niat yang tulus.

Semoga Allah limpahi hati kita dengan kecintaan penuh terhadap al-Qur’an. Sungguh, tidak ada hadiah terbaik kelak di akherat melainkan hafalan al-Qur’an yang dihafalkan dengan niat tulus karena Allah..

Keep Learning & Growing

Salam SUPER SEMANGAT!
A. S. Rizal | Jejaksemangat.com

======

Tips menghafal lainnya bisa didapatkan di channel Telegram sahabat Qur’an (klik t.me/SahabatQuraan)

Jika ingin dapat artikel terbaru saya via WA, bisa klik bit.ly/085655287877 (Tulis “mau artikel inspiratif” lalu sebutkan nama, email, asal)

Artikel ini boleh dishare tanpa izin.. semoga menjadi jalan kebaikan yang lebih besar untuk mereka yang rindu kepada al-Qur’an..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares