Alasan Utama Mengapa Anda Sakit Hati

Alasan Utama Mengapa Anda Sakit Hati

“Saya heran sekali mas sama sampean. Kok bisa sampean gak sakit hati dan gak kebawa perasaan walaupun diperlakukan semacam itu. Saya sama Alvin sampe komentar “hebat nih mr. Rizal. Walaupun diomongin macem-macem di sosmed gak kelihatan galau sama sekali. Status-statusnya masih tetap tentang bisnis dan motivasi”. Gimana sih mas kok bisa seperti itu?” Tanya seorang teman waktu ngobrol tadi pagi.

Sejujurnya saya lebih terheran dengan ungkapan teman saya ini. Kenapa hal itu bisa terkesan hebat baginya? Padahal saya merasa hal itu biasa saja. Apa hebatnya?

“memang seperti itu hebat ya mas?” tanyaku.

“Iya mas. Sulit lho bisa seperti itu?” katanya.

Lalu saya mencoba meingat-ingat kembali apa yang menyebabkan saya bisa seperti itu. Terkadang, kalau sikap itu sudah mendarah daging, saya seringkali sudah tidak ingat mengapa saya bisa seperti itu. Ibaratnya, berjalan otomatis tanpa berpikir lagi.

“Oo… sebenarnya biasa saja sih mas. Kalau pengen gak sakit hati ketika dicibir, diomongin orang atau dihina jangan merasa diri kita mulia. Jangan merasa diri kita harus dipuji. Jangan merasa diri kita sempurna. Jangan merasa diri kita paling benar” Jawabku simple.

“Biasanya” lanjut saya “orang yang mudah merasa sakit hati karena mereka selalu ingin dianggap sempurna. Selalu ingin dianggap baik. Selalu ingin orang lain memuji dirinya. Akhirnya ketika ada orang yang menghina, mencibir, atau berbicara yang tidak-tidak, mereka sangat mudah sakit hati”

“Sedangkan yang saya rasakan, saya ini orang yang banyak salahnya, bukan orang yang pantas dimuliakan, bukan orang yang sempurna, bukan orang yang pantas mendapat pujian. Jadi kalau ada orang yang menghina, mengkritik bahkan mengolok-olok sekalipun, kenapa harus marah? memang kenyataannya saya tidak sempurna kok mas”

“Tapi bayangkan kalo ada orang yang merasa dirinya harus selalu dimuliakan, merasa paling benar, merasa paling sempurna, merasa harus selalu mendapa pujian. Ketika ada orang yang mengkritik, bahkan menghina ya wajar dia sakit hati.”

“Saya belajar banyak dari Rasulullah. Rasulullah tidak pernah membalas hinaan dengan hinaan. Bahkan beliau ketika di lempari kotoran sekalipun beliau tidak membalasnya. Mengapa? karena beliau tidak merasa mulia meskipun kenyatannya beliau adalah manusia paling mulia. Apalagi saya mas? masak saya merasa jadi orang yang harus dimuliakan”

Kurang lebih seperti itu jawaban yang bisa saya tuliskan tentang apa yang saya sampaikan pada teman saya pagi tadi.

Jujur saja saya kaget kalau hal semacam itu dibilang hebat. Karena selama ini, fokus saya bukan agar dianggap hebat dengan sikap saya itu.

Saya hanya fokus memperbaiki diri dengan menyadari bahwa diri saya tidak selamanya benar. Diri saya tidak selamanya sempurna. Diri saya tidak selamanya pantas dipuji.

Saya pun menghilangkan anggapan kalau saya adalah orang yang pantas untuk dihormati dan dimuliakan. Sehingga ketika ada orang yang tidak hormat maupun berbuat tidak pantas terhadap saya, saya sangat mudah memaklumi dan memaafkannya.

Meskipun mungkin, orang-orang yang mencintai saya (terutama ibu) sangat tidak rela jika saya sampai dihina atau dicaci maki. Wajar. Saya pun juga tidak rela jika ibu saya dicela dan dicacimaki. Lebih baik saya yang dihina daripada ibu dan ayah saya.

Ketika saya mendapat hinaan, kritikan atau cibiran yang menurut orang keterlaluan, saya hanya bisa instropeksi diri dan memperbaiki diri. Tidak berhasrat untuk membalas hinaan dengan hinaan yang serupa.

Saya menghilangkan rasa dendam itu.

Jika memang yang disampaikan itu kenyataan, saya perbaiki diri .

Jika memang itu tidak benar, saya hanya menganggap orang yang menghina itu belum faham. Jadi kenapa marah untuk orang yang belum faham?

Hal ini sudah saya latih bertahun-tahun sejak saya memabca buku Pelatihan Tazkiyatun Nufus karya Syaikh Yahya ibn Hamaz al-Yamani. Beliau menyampaikan dalam bukunya seperti ini,

“Barangsiapa mengeluhkan perangai buruk orang lain, itu tandanya ia berperangai buruk. Karena, husn al-khuluq adalah sanggup menanggung perlakuan menyakitkan.”

Rasulullah saw. terbukti orang yang paling siap menanggung setiap hal yang menyakitkan dirinya serta bersabar karena Allah. Sungguh, Allah telah melapangkan dadanya, dan Dia menghiburnya dengan para nabi terdahulu dengan firmanNya,

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana telah bersabar orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul (terdahulu)… “ (al-Ahqaf [46]: 35)

Dalam keterangan lain di buku Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nufus menjelaskan bahwa husn al-khuluk salah satunya adalah tidak menyalahkan orang lain saat disakiti melainkan kembali mencela diri sendiri, menyendiri untuk mengenali aib-aib diri tanpa berusaha mengenali aib-aib orang lain, rahmah (kasih sayang-pen) terhadap anak kecil maupun dewasa…. (hal. 60).

Dari sini jelas sudah alasan saya mengapa saat ini saya merasa tidak sakit hati ketika mendapat perlakuan yang menyakitkan dari orang lain.

Saya membaca buku itu sejak Desember tahun 2013. Sejak tahu ilmu itu, saya langsung memprakekkan dan melatihnya hingga sekarang.

Kuncinya, jangan merasa pantas dimuliakan. Jangan merasa paling benar. Jangan merasa harus dianggap sempurna. Dengan seperti itu, insyaAllah hati kita lebih legowo.

Jika Anda pembaca artikel saya sejak lama, kemungkinan Anda sudah tau kronologi dibalik kisah itu.

Tulisan itu saya beri judul “Ciri Orang Berkhalak Buruk”. Judul itu boleh diketik ulang di kolom pencarian facebook. InsyAllah ketemu. Disitu lengkap dengan kronologis kejadiannya.

Saya pribadi masih merasa belum sempurna untuk mempraktekkan ilmu ini. Namun, saya selalu berusaha sekuat mungkin untuk tidak merasa sakit hati atas perangai kurang baik dari orang lain kepada saya.

Kuncinya, jangan merasa pantas dimuliakan. Jangan merasa paling benar. Jangan merasa harus dianggap sempurna. Jangan merasa selalu ingin dipuji. Dengan seperti itu, insyaAllah hati kita lebih legowo dan mudah memaafkan orang lain. Coba saja.

Karena sesungguhnya akhlak yang baik adalah ketika kita tidak menyalahkan orang lain saat kita disakiti melainkan kembali mencela diri sendiri, menyadari dan mengenali aib-aib diri tanpa berusaha mengenali aib-aib orang lain.

Perlakuan menyakitkan dari orang lain akan lebih bermanfaat jika kita sikapi dengan memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Menyimpan rasa sakit hati pada orang lain hanya akan membuat kita kehilangan kebahagaiaan yang hakiki dari hidup kita sendiri.

Keep Learning & Growing

Salam SUPER SEMANGAT!
A. S. Rizal | jejaksemangat.com

———

Pagi ini mahasiswa sy belum satu pun yang hadir meskipun sudah jamnya masuk kelas.

Dalam kondisi ini, kita bisa menyikapinya dengan marah, benci, dongkol atau ikhlas, sabar, lembut dan tegas.

Saya memilih mendoakan mahasiswa saya dan tidak bosan-bosan untuk mengingat agar lebih disiplin.

Alhamdulillahnya, tidak ada sedikit rasa benci dalam hati saya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares